Minggu, 01 April 2012

JALINAN FUNGSIONAL ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah
“Filsafat Ilmu”
Oleh:
Soli Subandi
Dosen Pengampu:
Dr. Ahmad Munir, M.Ag
Program Pasca Sarjana
Magister Studi Islam
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA KELAS KERJASAMA UNMUH PONOROGO
2010
A. Pendahuluan
Banyak orang yang termenung karena ia menghadapi kejadian yang membingungkannya, atau karena ia ingin tahu dan memikirkan akejadian itu. Lantas terbetik didalam benaknya berbagai pertanyaan: apakah kehidupan itu? Mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dan alam yang besar ini?
Semua persoalan itu adalah falsafi. Usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, dan fenomenologi.
Pada perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, obyek, tujuan, dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya. Berikut ini akan kita bahas jalinan fungsional ilmu, filsafat dan agama.


B. Jalinan Fungsional Ilmu, Filsafat Dan Agama
1. Relasi Filsafat Dan Ilmu
Filsafat dan ilmu dalam penggunaanya dalam beberapa hal saling tumpang tindih. Bahasa yang dipakai dalam filsafat berusa untuk berbicara mengenai ilmu dan bukanya didalamnya ilmu. Walaupun begitu apa yang harus dikatakan oleh seseorang ilmuan mungkin penting pula bagi seorang filsuf. Satu hal yang tidak dapat dilakukan oleh seorang filsof ialah mencoba memberitahukan kepada seorang ilmuan mengenai apa yang harus ditemukanya.
Filsafat dan ilmu bertemu pada obyek material, dan yang melainkan obyek formanya. Batasnya jadi terang akan tetapi dalam prakteknya sering juga ada kekacauan, ini tidak mengherankan sebab yang diselidiki memang sama, sedangkan yang menyelidiki itu sama juga ialah manusia.
Beda antara ilmu dan filsafat ternyata juga dari cara berfikir manusia. Seperti kami katakan lebih dulu ilmu berkisar pada fakta. Fakta itu khusul, namun ilmu harus berlaku umum dalam hukum-hukumnya. Hukum-hukum itu berlaku untuk umum: rumusan-rumusan hukum dalam ilmu alam, ekonomi serta ilmu hukum dan sebagainya diajukan dalam keumumanya. Ilmu memang dalam konklusinya yang dituangkan dalam putusanya selalu mengenai yang umum, tentang binatang pada umumnya, tentang manusia pada umumnya, tentang bilangan dan lain-lain, tidaklah mengenai yang khusus. Adapun realitas yang dihadapi ilmu itu selalu khusus, satu persatu (induvidual).
Dalam kekhususanya itu realitas bermacam-macam. Dalam bermacamnya hal-hal yang individual itu disebut konkrit, artinya hal itu terlibat dalam dan dengan sifat-sifat seluruhnya yang dimilikinya. Yang konkret itu lalu tertentu, yang satu lain dari pada yang lain. Tetapi bagaimanapun lainya mungkinlah yang berlainan itu dapat dimasukkan dalam satu macam.
Aspek yang umum itulah yang tidak konkret, lalu disebut abstrak yang diajukan oleh ilmu. Keumuman dalam ilmu itu juga tidak mutlak, tergantung dalam ilmu itu sendiri yang sama dalam bidang hal-hal yang hendak diajukan, lalu ada keumuman dalam ruang, dalam hidup, dalam aturan dan sebagainya.
Namun bagi ilmu apapun juga, jika kebenaran pendapat atau hukumnya hendak dibuktikan haruslah melalui fakta pengalaman, seperti kami bentangkan diatas sehingga harus dikatakan bahwa ilmu membatasi diri pada pengalaman. Adapun sifat ilmiah yang menuntut keumuman itu ternyata dimiliki ilmu demi kemampuan manusia untuk hanya menghiraukan yang umum saja dalam bermacam-macam, jadi aspek obyek sajalah yang diperhatikan.
Itu sebabnya pula walaupun ilmu hendak mencapai yang umum, memang ada sifat-sifat yang tidak diabstrakkan, jadi tidak masuk ilmu tertentu. Oleh karena obyek yang komplit itu sifatnya hampir-hampir tidak terbatas, kemungkinan jumlah ilmu boleh dikatakan tidak terbatas juga.
Kalau ilmu mengadakan abstraksi sampai kepada adanya obyek itu maka boleh dan haruslah ilmu disebut mencari keterangan yang sedalam-dalamnya untuk yang ada dan yang mungkin ada. Ilmu yang sampai pengabstrakan demikian itulah yang kami sebut filsafat. Filsafat itu lalu umum seumumnya, juga tidak membatasi diri dalam pengalaman atau apapun juga.
Walau demikian antara ilmu dan filsafat ada hubunganya. Filsafat memang dalam penyelidikanya mulai dari apa yang dialami manusia, karena tidak ada pengetahuan kalau tidak bersentuhan lebih dulu dengan indera. Sedangkan ilmu yang hendak menelaah hasil penginderaan itu, tidak mungkin mengambil keputusan dengan menjalankan pikiran tanpa mempergunakan dalil dan hukum pikiran yang tidak mungkin dialaminya.
Sebaliknya filsafatpun memerlukan data dari ilmu. Jika misalnya ahli filsafat manusia hendak menyelidiki manusia itu serta hendak menentukan apakah manusia itu, ia memang harus mengetahui gejala tindakan manusia. Dalam hal ini ilmu yang bernama psikologi akan menolong filsafat itu sebaik-baiknya dengan hasil penyelidikanya. Kesimpulan filsafat tentang kemanusiaan akan sangat pincang dan mungkin jauh dari kebenaran jika tidak menghiraukan hasil psikologi.
Persamaan dan perbedaan filsafat dan ilmu
Persamaan filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut:
a. Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki obyek selengkap-lengkapnya sampai keakar-akarnya
b. Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan sebab-sebabnya.
c. Keduanya hendak memberikan sintesis yaitu suatu pandangan yang bergandengan
d. Keduanya mempunyai metode dan sistim
e. Keduanya handak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhya timbul dari hasrat manusia (obyektifitas), akan pengetahuan yang lebih mendasar.
Adapun perbedaan filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut:
a) Obyek material (lapangan) filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan obyek material ilmu (pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris. Artinya, ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secara kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu.
b) Obyek formal (sudut pandangan) filsafat itu bersifat non-fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Disamping itu, obyek formal ilmu bersifat tehnik yang berarti bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita.
c) Filsafat dilaksanakan dalam suatu suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh karena itu, nilai ilmu terletak pada kugunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainya.
d) Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis yang dimula dari tidak tahu menjadi tahu.
e) Filsafat memberikan penjelasan yang terakhir yang mutlak dan mendalam sampai mendasar (primary cause), sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam yang lebih dekat yang sekunder (secondary cause).
2. Relasi Filsafat Dan Agama
Baik agama maupun filsafat pada dasarnya mempunyai kesamaan, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mencapai kebenaran yang sejati. Agama yang dimaksud disini adalah agama samawi yaitu agama yang diwahyukan tuhan kepada nabi dan rasul-Nya. Dibalik persamaan itu terdapat pula perbedaan antara keduanya. Dalam agama ada beberapa hal yang amat penting, misalnya Tuhan, kebajikan, baik dan buruk, surga dan neraka, dan lain-lain. Hal-hal tersebuat diselidiki pula oleh filsafat. Oleh karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada.
Oleh karena filsafat itu menyelidiki sesuatu yang ada dan mungkin ada, dapat saja agama yang terang ada itu difilsafatkan, artinya ditinjau secara filsafat. Pun etika yang menyelidiki tingkah laku manusia dari sudut baik buruknya tentu sama pula dengan hal-hal keagamaan.
Agama sebagai suatu hal yang ada dapat diilmukan syarat ilmiah dan cara kerjanya sekali dipakai dalam ilmu agama itu maka ada bermacam-macam ilmu yang obyeknya suatu aspek dari agama adalah ilmu perbandingan agama, ada psikologi agama, ada fenomenologi agama, ada sosiologi agama. Apa yang menjadi obyeknya masing-masing yang kami utarakan sekarang ini, cukuplah sudah diajukan memang ada ilmu-ilmu yang menyelidiki agama (aspeknya) secara ilmiah.
Alasan filsafat untuk menerima kebenaran melainkan penyelidikan sendiri, hasil pikiran belaka. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu, tetapi ia tidak mendasarkan penyelidikanya pada wahyu. Ada juga beberapa hal yang masuk kewilayah agama yang diselidiki pula oleh filsafat. Kalau demikian, mungkinkah ada pertentangan antar agama dan filsafat? Pada dasarnya tidak, karena kalau kedua-duanya mempunyai kebenaran, maka kebenaran itu satu dan sudah barang tentu sama. Tidak mungkin ada sesuatu yang pada prinsipnya benar, juga tidak benar. Tegasnya bahwa lapangan filsafat dan agama dalam beberapa hal mungkin sama, akan tetapi dasarnya amat berlainan. Filsafat berdasarkan pada pikiran belaka, agama berdasarkan wahyu ilahi. Agama sering disebut juga kepercaan, alasanya karena yand diwahyukan oleh Tuhan haruslah dipercayai.
Dalam filsafat, untuk mendapatkan kebenaran hakiki manusia harus mencarinya sendiri dengan mempergunakan alat yang dimilikinya berupa segala potensi lahir dan batin. Sedangkan dalam agama, untuk mendapatkan kebenaran hakiki itu manusia tidak hanya mencarinya sendiri, melainkan ia harus menerima hal-hal yang diwahyukan Tuhan, dengan kata singkat percaya atau iman.
Walaupun antara kebenaran yang disajikan oleh agama mungkin serupa dengan kebenaran yang dicapai oleh filsafat, tetapi tetap agama tidak bisa disamakan dengan filsafat. Perbedaan ini disebabkan cara pandang yang berbeda. Disatu pihak agama beralatkan kepercayaan, dilain pihak filsafat berdasarkan penelitian yang menggunakan potensi manusiawi, dan meyakininya sebagai satu-satunya alat ukur kebenaran, yaitu akal manusia.
C. KESIMPULAN
Antara filsafat dan ilmu ada persamaan dan perbedaannya antara lain:
Persamaan filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut:
1. Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki obyek selengkap-lengkapnya sampai keakar-akarnya
2. Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan sebab-sebabnya.
3. Keduanya hendak memberikan sintesis yaitu suatu pandangan yang bergandengan
4. Keduanya mempunyai metode dan sistim
5. Keduanya handak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhya timbul dari hasrat manusia (obyektifitas), akan pengetahuan yang lebih mendasar.
Adapun perbedaan filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut:
1. Obyek material (lapangan) filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan obyek material ilmu (pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris.
2. Obyek formal (sudut pandangan) filsafat itu bersifat non-fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif.
3. Filsafat dilaksanakan dalam suatu suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh karena itu, nilai ilmu terletak pada kugunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainya.
4. Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis yang dimula dari tidak tahu menjadi tahu.
5. Filsafat memberikan penjelasan yang terakhir yang mutlak dan mendalam sampai mendasar (primary cause), sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam yang lebih dekat yang sekunder (secondary cause).
Sedangkan agama maupun filsafat pada dasarnya mempunyai kesamaan, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mencapai kebenaran yang sejati. Agama yang dimaksud disini adalah agama samawi yaitu agama yang diwahyukan tuhan kepada nabi dan rasul-Nya. Dibalik persamaan itu terdapat pula perbedaan antara keduanya.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2004.
LR. Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan. Jakarta: PT Rineka Cipta,1991.
Praja, Juhaya. S, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Fajar Interpratama Offset,2003.
Soemargono, Soejono, pengantar filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya,1996.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar